NEWSRUBLIK.COM |SUBANG – Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) membawa perubahan besar dalam dunia jurnalistik. Teknologi tersebut dinilai dapat membantu berbagai tahapan kerja wartawan, mulai dari riset, transkripsi wawancara, pengolahan data hingga pengembangan produk media.

Namun, kemudahan yang ditawarkan AI tidak serta-merta menghilangkan prinsip dasar jurnalistik. Hal tersebut disampaikan Dr. Efi Fadilah, S.Sos., M.Pd., dalam kegiatan Sharing Knowledge and Collaborative Experience yang digelar PHE 1 West Java Area (WMJ) bersama Pertamina EP Zona 7.yang bertempat di Ballroom Ibis Bandung,Rabu (23/9/2026)

Menurut Efi, pekerjaan jurnalistik pada dasarnya tetap berorientasi pada manusia. Karena itu, penggunaan teknologi harus ditempatkan sebagai alat bantu, bukan pengganti peran dan tanggung jawab wartawan.

“Kerja jurnalistik itu sangat human centric. Dikerjakan oleh manusia dan untuk manusia,” ujar Efi.

Baca Juga:

TRANSISI ENERGI DAN GEOPOLITIK JADI SOROTAN, PRAKTISI UNGKAP MASA DEPAN INVESTASI HULU MIGAS INDONESIA

Ia menjelaskan, pada awal perkembangan AI, sebagian kalangan jurnalistik masih menunjukkan sikap hati-hati bahkan cenderung resisten terhadap penggunaan teknologi tersebut.

Namun, seiring AI berkembang semakin pesat dan masuk ke berbagai sektor pekerjaan, wartawan perlu memahami teknologi tersebut agar tidak tertinggal.

“Persoalannya bukan lagi apakah AI ini akan kita pakai atau tidak, tetapi bagaimana AI ini kita gunakan dalam kerja-kerja jurnalistik dalam koridor atau track yang semestinya,” jelasnya.

AI Membantu Banyak Tahapan Kerja Jurnalistik

Efi memaparkan, AI dapat dimanfaatkan dalam berbagai proses produksi berita. Teknologi ini antara lain dapat membantu wartawan melakukan riset awal, memahami suatu isu, melakukan transkripsi wawancara, mengolah data, membuat rangkuman hingga mencari alternatif sudut pandang pemberitaan.

Dalam konteks peliputan institusi atau perusahaan dengan struktur yang kompleks, misalnya, AI dapat digunakan sebagai alat bantu untuk memperoleh gambaran awal sebelum wartawan melakukan pendalaman di lapangan.

AI juga dapat membantu pengembangan produk media, termasuk pengolahan informasi menjadi bentuk visual maupun penyesuaian konten untuk berbagai platform digital.

Meski demikian, Efi menegaskan bahwa kemudahan tersebut tidak boleh membuat wartawan menyerahkan seluruh proses jurnalistik kepada AI.

Etika Jurnalistik Tetap Menjadi Pegangan

Menurut Efi, perkembangan teknologi tidak mengubah prinsip dasar etika jurnalistik. Justru, kehadiran AI menuntut wartawan semakin memahami bagaimana standar etik diterapkan ketika teknologi digunakan dalam proses produksi berita.

“Etika jurnalistik tidak berubah. Yang berubah adalah bagaimana kita menerapkannya, belajar menerapkannya, kemudian melakukan refleksi sejauh mana standar etik ini bisa kita terapkan dalam konteks menggunakan AI,” ungkapnya.

Karena itu, hasil yang diberikan AI tetap perlu diperiksa dan diverifikasi oleh wartawan. Akurasi informasi, konteks, keberimbangan, serta kebenaran data tetap menjadi bagian dari tanggung jawab jurnalistik.

Wartawan juga dituntut mampu membedakan antara informasi yang dapat dijadikan bahan awal dengan informasi yang sudah terverifikasi dan layak dipublikasikan.

Pada akhirnya, AI dipandang sebagai bagian dari perkembangan teknologi yang dapat mendukung efisiensi kerja redaksi. Namun, keputusan jurnalistik, proses verifikasi, penerapan kode etik, dan tanggung jawab terhadap informasi yang disampaikan kepada publik tetap berada pada manusia.

Kegiatan Sharing Knowledge and Collaborative Experience tersebut menjadi ruang pertukaran pengetahuan antara insan industri hulu migas dan kalangan media, sekaligus membahas berbagai tantangan yang dihadapi dunia jurnalistik di tengah perkembangan teknologi digital dan AI.(Asep)