NEWSRUBLIK.COM |SUBANG – Perkembangan geopolitik global dan transisi energi menjadi dua isu penting yang perlu diperhatikan dalam melihat dinamika investasi sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) di Indonesia.
Hal tersebut disampaikan A. Rinto Pudyantoro, praktisi minyak, gas bumi, dan ekonomi energi, saat menjadi narasumber dalam kegiatan Sharing Knowledge and Collaborative Experience yang digelar PHE 1 West Java Area (WMJ) bersama Pertamina EP Zona 7. Rabu (23/9/2926)
Rinto menjelaskan,di ballroom hotel Ibis trans studio bandung investasi hulu migas tidak hanya dipengaruhi kondisi domestik, tetapi juga berbagai perkembangan global yang dapat memberikan dampak terhadap industri energi.
Menurutnya, terdapat dua kelompok faktor yang perlu diperhatikan, yakni faktor global dan faktor domestik. Dari sisi global, salah satu aspek penting adalah perkembangan geopolitik. Sedangkan dari sisi domestik mencakup sumber daya, kebijakan fiskal, regulasi, serta keekonomian proyek.
βKalau kita bicara investasi hulu secara global, ada dua sisi. Pertama faktor global dan kedua faktor yang terjadi di dalam negeri. Keduanya berpengaruh terhadap investasi,β ujar Rinto.
Ia mengatakan, geopolitik menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati karena perubahan situasi global dapat berpengaruh terhadap dinamika sektor energi dan keputusan investasi.
Selain geopolitik, transisi energi juga menjadi perhatian dalam perkembangan industri migas. Rinto menjelaskan, isu transisi energi bukanlah fenomena baru. Perkembangannya telah berlangsung sejak lama dan salah satu tonggak pentingnya adalah Protokol Kyoto pada 1997.
βKalau kita bicara transisi energi, sebenarnya sudah dimulai sejak lama, sejak Protokol Kyoto pada 1997. Setelah itu terus bergerak dan berkembang sampai sekarang,β jelasnya.
Seiring meningkatnya perhatian global terhadap perubahan iklim dan upaya pengurangan emisi, industri energi menghadapi perubahan dalam kebijakan, teknologi maupun arah investasi.
Dalam kondisi tersebut, industri hulu migas dituntut memahami perubahan lingkungan strategis sekaligus melihat peluang pengembangan energi yang masih dibutuhkan untuk mendukung kebutuhan masyarakat dan perekonomian.
LNG dan Gas Bumi
Rinto juga menyoroti posisi gas bumi dan liquefied natural gas (LNG) dalam dinamika investasi energi.
Menurutnya, pembahasan mengenai LNG berkaitan dengan sejumlah faktor domestik, terutama regulasi dan fiscal term. Kedua aspek tersebut menjadi bagian dari lingkungan investasi yang perlu diperhatikan dalam pengembangan proyek hulu migas.
Selain itu, keekonomian proyek menjadi faktor penting karena investasi hulu migas membutuhkan modal besar serta menghadapi berbagai risiko, khususnya dalam kegiatan eksplorasi dan pengembangan lapangan.
Karena itu, menurut Rinto, investasi hulu migas perlu dilihat secara menyeluruh dengan mempertimbangkan faktor global dan domestik secara bersamaan.
Media Jadi Mitra Strategis
Kegiatan Sharing Knowledge and Collaborative Experience tersebut tidak hanya menjadi forum berbagi pengetahuan mengenai industri migas, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat hubungan antara perusahaan dan insan media.
Pihak penyelenggara menyampaikan bahwa media merupakan mitra strategis dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat.
Berbagai kegiatan hulu migas, mulai dari optimalisasi sumur, pengembangan fasilitas produksi, pemeliharaan infrastruktur hingga eksplorasi sumber daya baru, memiliki perspektif yang berbeda ketika dilihat dari sisi perusahaan, masyarakat maupun media.
Dari sisi operasional, terdapat berbagai tantangan teknis yang dihadapi perusahaan. Sementara dari sisi masyarakat, perhatian lebih banyak tertuju pada manfaat kegiatan serta dampaknya terhadap lingkungan dan kehidupan sosial.
Adapun media berperan mengolah informasi dari berbagai perspektif tersebut menjadi pemberitaan yang dapat dipahami masyarakat.
Melalui kegiatan berbagi pengetahuan dan pengalaman, komunikasi antara perusahaan dan media diharapkan semakin terbuka dan kolaboratif.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari itu turut dihadiri perwakilan SKK Migas, jajaran PHE 1 West Java Area dan Pertamina EP Zona 7, pengurus organisasi kewartawanan, serta insan media dari sejumlah wilayah Jawa Barat.
Agenda tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat komunikasi, membangun kepercayaan, dan memperluas pemahaman mengenai dinamika industri hulu migas di tengah perubahan energi global (Asep)





Leave a Reply